Rabu, 29 Maret 2017

Teknik Perawatan Mesin

1.          1.           Latar Belakang
            Dalam dunia industri dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang baik namun dengan waktu yang singkat. Hal tersebut tentu dipengaruhi oleh berbaga faktor, tak hanya kualitas sumber daya manusia yang handal namun faktor lain seperti kualitas mesin yang digunakan juga menjadi salah hal penting yang perlu diperhatikan.  Oleh karena dibutuhkan alat atau mesin yang handal guna mendukung suatu proses produksi. Untuk menjaga kehandalan mesin maka dibutuhkan suatu kegiatan rutin yang teratur dan terencana yang disebut sebagai perawatan dan perbaikan mesin.

 





            2.         Definisi dan Tujuan Perawatan Mesin
            2.1.      Definisi Perawatan Mesin
Perawatan merupakan suatu kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang, memperbaikinya sampai pada suatu kondisi yang dapat diterima (Daryus, 2007).
Menurut B.S. Dhillon (2002) istilah dan definisi perawatan atau yang dikenal dengan maintenance dibagi menjadi beberapa point sebagai berikut:
   1. Maintenance : Semua tindakan tepat untuk mempertahankan suatu barang / peralatan atau mengembalikannya pada kondisi tertentu.
     2.  Maintenance Engineering : Aktivitas pemeliharaan peralatan / benda yang menghasilkan konsep, kriteria, dan persyaratan teknis dalam fase konsepsional dan akuisisi yang digunakan dan dipelahara selama alat beroperasi secara terus-menerus untuk memastikan pemeliharaan dapat meningkatkan kualitas peralatan secara efektif.
            Ngadiono (2010: 1) menyatakan bahwa secara umum istilah perawatan memiliki arti sebagai berikut: menjaga (Keep), Mempertahankan (Preserve), dan melindungi (Protect).
           1.    Pekerjaan rutin berkelanjutan yang dilakukan untuk menjaga fasilitas perencanaan, bangunan,             struktur, fasilitas tanah, sistem utilitas, atau properti riil lainnya) dalam kondisi sedemikian                 rupa sehingga dapat terus digunakan, dengan kapasitas asli rancangan dan untuk efisiensi                     perusahaan sesuai tujuan yang dimaksudkan.
2.   Berbagai kegiatan, seperti: tes, pengukuran, penggantian, penyesuaian dan perbaikan 
    yang bertujuan untuk mempertahankan atau mengembalikan fungsi komponen/unit dalam atau ke sistem tertentu di mana unit dapat melakukan fungsi yang dibutuhkan perusahaan
3.    Semua tindakan yang diambil untuk melindungi aset perusahaan dari berbagai 
    gangguan agar sistem dapat senantiasa bekerja optimal. Kegiatannya mencakup inspeksi, pengujian, pelayanan, klasifikasi untuk servis, perbaikan reklamasi, membangun kembali, dan semua tindakan pasokan dan perbaikan yang  diambil untuk menjaga kekuatan dalam kondisi untuk melaksanakan misinya.

Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa perawatan mesin merupakan suatu aktivitas atau kegiatan yang dilakukan untuk menjaga, mempertahankan, dan melindungi suatu mesin agar dapat meningkatkan kinerja mesin secara efektif.


2.2.            Tujuan Perawatan Mesin
Ngadiyono (2010: 3) menyatakan bahwa Setiap jenis kegiatan pemeliharaan pasti mempunyai tujuan. Secara umum tujuan dilakukannya pemeliharaan adalah menjaga kondisi  dan  atau  untuk  memperbaiki  mesin  agar  dapat berfungsi sesuai tujuan usaha. Kondisi yang diterima adalah sesuai mesin yang mampu menghasilkan produk sesuai standar, yaitu memenuhi toleransi bentuk, ukuran dan fungsi. Namun demikian secara umum tujuan utama pemeliharaan adalah:
a.   Menjamin ketersedian optimum peralatan yang tepat guna memenuhi rencana kegiatan           produksi dan proses produksi dapat memperoleh laba investasi secara maksimal.
b.   Memperpanjang umur produktif suatu mesin pada tempat kerja, bangunan dan seluruh isinya.
c.   Menjamin ketersediaan seluruh peralatan yang diperlukan dalam kondisi darurat.
d.   Menjamin keselamatan semua orang yang berda dan menggunakan mesin tersebut.

3.         Perawatan Mesin Produksi
3.1.      Program Perawatan Perawatan Mesin Produksi
Dalam istilah perawatan disebutkan bahwa disana tercakup dua pekerjaan yaitu istilah “perawatan” dan “perbaikan”. Perawatan dimaksudkan sebagai aktifitas untuk mencegah kerusakan, sedangkan istilah perbaikan dimaksudkan sebagai tindakan untuk memperbaiki kerusakan (Ardian).
Secara umum, ditinjau dari saat pelaksanaan pekerjaan perawatan, dapat dibagi menjadi dua cara:
1.         Perawatan yang direncanakan (Planned Maintenance).
2.         Perawatan yang tidak direncanakan (Unplanned Maintenance).
Secara skematik pembagian perawatan bisa dilihat pada gambar berikut:

                  
                                   Gambar 2. Bagan Jenis Perawatan
Dalam pelaksanaan perawatan atau pemeliharaan mesin produksi terdapat kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara rutin baik setiap hari, minggu, maupun bulan. Berikut ini merupakan contoh program maintenance pada mesin bubut.
A.       Program Harian
1.   Membersihkan chip dan bed menggunakan kuas dan vacuum cleaner.
2.   Membersihkan        chip     dari      turret,  housing, komponen     yang berputar dan batang ulir pembawa.
3.   Mengecek perangkat keselamata kerja telah terpasang dengan baik.
4.   Memastikan level oli (pelumas) sesuai dengan standar yang ditentukan.
B.           Program Mingguan
1.   Mengecek perangkat otomatis bekerja sesuai standar kinerja mesin.
2.   Memeriksa level pelumas pada kaca kontrol dan kebocoran pada pelumas.
3.   Memeriksa tekanan oli dari pompa hidrolik jika menggunakan pompa hidrolik.
4.   Membersihkan chip dari penampung coolant
C.           Program Bulanan
1.   Memastikan secara keseluruhan komponen yang bergerak dan bergesekan berjalan 
     dengan baik, diberikan pelumas jika perlu.
2.    Mengganti cairan coolant dan membersihkan endapan dari dalam tank.
3.     Memeriksa level oli pelumas pada gearbox. Jika level pelumas tidak sesuai standart maka tambahkan oli pelumas atau ganti seluruhnya.
Kelancaran pelaksanaan kegiatan perawatan atau maintenance tentunya tak terlepas dari perencanaan dan organisasi yang berperan didalamnya. Dalam system perawatan atau maintenance bagian yang memliki tanggung jawab penting adalah bagian perawatan.
Departemen perawatan pada umumnya berada di bawah pengawasan manajer pabrik, yang bertanggung jawab pula untuk program produksi. Setiap pengawas pada departemen perawatan harus bertanggung jawab terhadap aktifitas perawatan, inspeksi, perbaikan, overhaul dll. Pengawas adalah orang-orang yang berpengalaman dan mampu menentukan kapan waktu untuk inspeksi, overhaul dan sebagainya. Untuk mencapai keberhasilan program perawatan, banyak faktor penunjang yang perlu diadakan pada departemen perawatan. Dalam kaitan ini, keberadaan engineering sangat diperlukan untuk menyiapkan dan memberikan sistem pelayanan pada fungsi perawatan (Daryus, 2007).
4.         Departemen Organisasi Perawatan Mesin Produksi
Organisasi dalam suatu perusahaan merupakan hal yang sangat penting yang bertujuan agar semua system dalam perusahaan dapat berjalan dengan baik dan tidak saling overlap (tumpang tindih) antara satu bagian dengan yang lain karena sudah memiliki ruang lingkup sendiri.
Departemen Perawatan merupakan bagian sentral dalam kegiatan maintenance di suatu perusahaan karena departemen perawatan langsung berada dibawah menajer pabrik, dan juga bertanggung jawab untuk program produksi.
Dalam pembentukan departemen perawatan keselarasan antara faktor-faktor keterampilan, geografis, dan situasi pekerja merupakan hal yang penting. Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan departemen perawatan adalah:
1.      Jenis Pekerjaan
2.      Kesinambungan Pekerjaan
3.      Situasi geografis
4.      Ukuran Pabrik
5.      Ruang lingkup bidang perawatan pabrik.
6.      Keahlian tenaga kerja
4.1.      Jenis Pekerja
Pada umumnya, tugas departemen perawatan dibagi dalam empat kelompok:
      a.       Perawatan dan perbaikan fasilitas pabrik.
1.      Perawatan pabrik berikut peralatan dan gedungnya.
2.      Pembangunan kembali atau pembaruan pabrik serta perlengkapannya yang sudah tua.
      b.      Pemasangan dan penggantian fasilitas pabrik.
1.      Instalasi peralatan pada pabrik yang baru.
2.      Instalasi pembangkit tenaga: listrik, air, uap, gas, udara dan tenaga lainnya.
3.      Instalasi pada pelayanan khusus: ruang hampa, gas industri, instalasi pipa untuk pekerjaan kimia, sistem pembersihan air, sistem udara tekan, tanda bahaya kebakaran dan lain-lain.
4.      Perubahan atau modifikasi pabrik, peralatan dan gedung.
      c.       Pengawasan pengoperasian fungsi pembangkit tenaga dan pelayanan khusus.
1.      Ruang operasi ketel, saluran uap danpembangkit tenaga.
2.      Pembangkit udara tekan dan distribusinya, sistem ventilasi dan pemanas.
     d.      Beberapa tugas yang diserahkan kepada departemen perawatan.
1.      Pengelolaan suku cadang.
2.      Perawatan bangunan fisik pabrik: jalan-jalan, lantai, atap, pintu, jendela dan lain-lain.
3.      Sistem pembuangan limbah.
4.      Penyelamatan dan pemanfaatan bahan bekas atau sisa.
5.      Pelayanan pemadam kebakaran.
6.      Keamanan pabrik.
4.2.      Ruang Lingkup
Ruang lingkup pekerjaan perawatan ditentukan menurut kebijaksanaan manajemen. Departemen perawatan yang dituntut melaksanakan fungsi primer dan sekunder akan membutuhkan supervisi tambahan, sedangkan departemen perawatan yang fungsinya tidak terlalu luas akan membutuhkan organisasi yang lebih sederhana.
4.3.            Struktur Departemen Organisasi
Berikut ini merupakan contoh struktur organisasi departemen perawatan dalam dunia industri

                                                                                              
  

Referensi
Daryus, Asyari. 2007. Manajemen Pemeliharaan Mesin. Universitas Darma Persada. Jakarta.
Dhillon, B.S. 2002. Engineering Maintenance A Modern Approach. CRC Press LCC. Florida.
Ngadiyono, Yatin. 2010. Pemeliharaan Mekanik Industri. Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Mobley R.K., L.R. Higgins, and D.J. Wikoff. 2008. Maintenance Engineering Handbook, seventh edition. McGraw-Hill Book Company. New York

Minggu, 08 Januari 2017

Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (Angin dan Matahari)

Di tengah dunia yang semakin berkembang baik dari segi teknologi dan gaya hidup, kebutuhan akan Listrik pun bukan lagi menjadi sebuah pilihan melainkan sebuah kewajiban. Terlebih lagi saat ini semua yang serba elektrik akibat modernisasi membuat listrik semakin tak bisa dipisahkan. Industri-industri baik sekala besar hingga kecil sekalipun semua sangat bergantung pada listrik. Tak hanya di dunia industri, begitu pula dengan pendidikan. Masih banyak saudara-saudara kita khususnya yang tinggal di daerah-daerah terpencil, disaat mereka membutuhkan listrik sebagai sumber penerangan mereka untuk belajar, namun tak bisa mereka nikmati.

Yah Indonesia bisa dibilang salah satu negara yang masih memiliki masalah dalam penyediaan listrik. Hal ini bisa dilihat dilihat masih banyaknya desa-desa di Indonesia yang belum dialiri listrik dengan baik. Dari 82.190 desa di Indonesia, 42.352 desa belum dialiri listrik. (Tempo.co, 21 Mei 2016)
Selama ini sumber listrik di Indonesia masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Pada tahun 2014 tercatat Listrik yang dihasilkan oleh Indonesia adalah sebesar 37.379,53. Dengan PLTU sebagai penghasil tersbesar yaitu mencapai 14.457 Mega Watt (MW). Untuk rinciannya dapat dilihat melalui table dibawah ini.
Tabel Kapasitas Pembangkit Listrik di Indonesia



Sumber : Direktorat Jendral Ketenagalistrikan Kemenstrian ESDM

Mengingat PLTU menggunakan batubara yang merupakan energy yang dapat habis (Non Renewable resources) Pemerintah harus segera mencari alternative untuk mengantisipasi habisnya stock batu bara yang diperkirakan akan habis pada tahun 2033.

Berbagai upaya pun dilakukan untuk mencari sumber tenaga listrik yang potensial terutama menggunakan sumber energy terbarukan (Renewable Resources). Saat ini sendiri sudah begitu banyak pembangkit listrik dari renewable energy seperti biogas, geothermal, gelombang air laut, dan yang paling sering digunakan yaitu sel surya (solar cell) dan angin.

Dan mungkin banyak yang masih banyak diantara kita yang masih belum tahu bahwa ternyata dua atau lebih sumber energy bisa digabungkan untuk menghasilkan kapasitas listrik yang lebih besar lhoo (Ngomong” ane juga baru tahu lho guyss, hehe). Nah setelah basa-basi yang cukup panjang di atas sekarang ane bakal sedikit berbagi pengetahuan nih guys tentang PLTH (Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid)  itu sendiri. Tapi untuk kali ini ane mau bahas tentang PLTH yang sumbernya dari ANGIN dan MATAHARI yaa. 

Nahh gimana ya jadinya klo dua sumber penghasil potensial PLTB dan PLTS digabungin jadi satu?? Let's check it out... 

Senin, 30 November 2015

Perancangan Instalasi Pengolahan Limbah Rumah Sakit

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.             Latar Belakang
“Kesehatan lebih penting dari segalanya” kata tersebut merupakan ungkapan bahwa kesehatan sangat penting bagi kehidupan manusia. Tak dapat dipungkiri kalimat tersebut memanglah benar karena pada dasarnya segala sesuatu berawal sehat. Ketika sehat orang pun dapat melakukan segala aktivitas dengan baik.

Tak dapat dihindari bahwa kesehatan tidak selamanya baik. Tubuh kita rentan terhadap penyakit sehingga tak dapat disangka tubuh dapat diserang penyakit baik penyakit yang biasa maupun yang ganas sekalipun. Ketiks tubuh mengalami sakit makan akan membuat nafsu untuk melakukan aktivitas pun berkurang.
Dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, sebagai penunjang kesejahteraan masyarakat banyak, rumah sakit menjadi salah satu alternatif tersebut. Rumah sakit merupakan salah satu jawaban dalam meningkatkan kesehatan masyarakat banyak. Rumah sakit memiliki berbagai fasilitas seperti ruang operasi, laboratorium, ruang farmasi, kamar rawat, dll.
Kegiatan di rumah sakit pasti menghasilkan limbah yang memiliki dampak buruk jika tidak diolah dengan baik. Dalam pengolahan limbah Rumah sakit tidak hanya menghasilkan limbah organik dan anorganik, tetapi juga limbah infeksius yang mengandung bahan beracun berbahaya (B3). Dari keseluruhan limbah rumah sakit, sekitar 10 sampai 15 persen di antaranya merupakan limbah infeksius yang mengandung logam berat, antara lain mercuri (Hg). Sekitar 40 % lainnya adalah limbah organik yang berasal dari sisa makan, baik dari pasien dan keluarga pasien maupun dapur gizi.Sisanya merupakan limbah anorganik dalam bentuk botol bekas infus dan plastik.   
Pada tahun 1999, WHO melaporkan di Perancis pernah terjadi 8 kasus pekerja kesehatan terinfeksi HIV, 2 di antaranya menimpa petugas yang menangani limbah medis. Hal ini menunjukkan bahwa perlunya pengelolaan limbah yang baik tidak hanya pada limbah medis tajam tetapi meliputi limbah rumah sakit secara keseluruhan. Namun, berdasarkan hasil Rapid Assessment tahun 2002 yang dilakukan oleh Ditjen P2MPL Direktorat Penyediaan Air dan Sanitasi yang melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota, menyebutkan bahwa sebanyak 648 rumah sakit dari 1.476 rumah sakit yang ada, yang memiliki incinerator baru 49% dan yang memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebanyak 36%. Dari jumlah tersebut kualitas limbah cair yang telah melalui proses pengolahan yang memenuhi syarat baru mencapai 52% 1.
Salah satu jenis limbah rumah sakit adalah limbah farmasi yaitu berasal dari obat-obat kadaluwarsa, obat-obat yang terbuang karena batch yang tidak memenuhi spesifikasi atau kemasan yang terkontaminasi, obat- obat yang dibuang oleh pasien atau dibuang oleh masyarakat, obat-obat yang tidak lagi diperlukan oleh institusi bersangkutan dan limbah yang dihasilkan selama produksi obat- obatan. Limbah farmasi hendaknya dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan, karena limbah ini merupakan sumber racun yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkan pengolahan limbah yang baik agar tidak menimbulkan dampak negative bagi lingkungan sekitar.

1.2.Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud limbah rumah sakit?
2.      Apa sajakah jenis limbah rumah sakit?
3.      Bagaimanakah proses penanggulangan limbah yang dihasilkan oleh rumah sakit?

1.3. Tujuan
1.      Mengetahui apa itu limbah rumah sakit.
2.      Mengetahui hjenis-jenis limbah rumah sakit.
3.      Mengetahui Proses Pengolahan atau instalasi limbah rumah sakit.







BAB II
PEMBAHASAN
3.1.         Penjelasan Limbah Rumah Sakit
Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan  dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat  berupa gas dan debu,cair atau padat. Di antara berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3).
Limbah ialah setiap bahan sisa suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat (toxicity,flammabi lity,reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia (BAPEDAL (1995).
Limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Secara umum sampah dan limbah rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sampah atau limbah klinis dan non klinis baik padat maupun cair.

2.2.          Jenis-jenis Limbah Rumah Sakit
Adapun Jenis-jenis limbah rumah sakit sebagai berikut ini:
a.        Limbah klinik
Limbah klinik yaitu Limbah yang dihasilkan selama pelayanan pasien secara rutin pembedahan dan di unit-unit resiko tinggi. Limbah ini mungkin berbahaya dan mengakibatkan resiko tinggi infeksi kuman dan populasi umum dan staf Rumah Sakit. Oleh karena itu perlu diberi label yang jelas sebagai resiko tinggi. Contoh limbah jenis tersebut ialah perban atau pembungkusyang kotor, cairan badan, anggota badan yang diamputasi, jarum-jarum dan semprit bekas, kantung urine dan produk darah.
b.      Limbah Patologi
Limbah ini juga dianggap beresiko tinggi dan sebaiknya diautoclaf sebelum keluar dari unit patologi. Limbah tersebut harus diberi label biohazard.
c.       Limbah bukan klinik
Limbah ini meliputi kertas-kertas pembungkus atau kantong dan plastik yang tidak berkontak dengan cairan badan. Meskipun tidak menimbulkan resiko sakit, limbah tersebut cukup merepotkan karena memerlukan tempat yang besar untuk mengangkut dan menbuangnya.
d.      Limbah dapur
Mencakup sisa-sisa makanan dan air kotor. Berbagai serangga seperti kecoa, kutu dan hewan pengerat seperti tikus merupakan gangguan bagi staf maupun pasien di Rumah Sakit.
e.       Limbah radioaktif
Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan medis atau riset radio nukleida.
f.       Limbah Farmasi
Limbah farmasi merupakan salah satu jenis sampah medis atau merupakan sampah berbahaya yang pengelolaannya harus diperhatikan. Beberapa contoh sampah farmasi adalah obat – obatan,vaksin,serum,yang tidak digunakan lagi,botol obat yang beresidu, dll.Limbah farmasi dapat berupa senyawa kimia toksik maupun non toksik, baik dalam bentuk padat, cair, maupun uap.

2.3.            Proses Pengolahan atau Instalasi Limbah Rumah Sakit
Dalam pengelolaan limbah padat baik medis maupun non medis, rumah sakit diwajibkan melakukan pemilahan limbah dan menyimpannya dalam kantong plastik yang berbeda beda berdasarkan karakteristik limbahnya. Limbah domestik di masukkan kedalam plastik berwarna hitam, limbah infeksius kedalam kantong plastik berwarna kuning, limbah sitotoksic kedalam warna kuning, limbah kimia/farmasi kedalam kantong plastik berwarna coklat dan limbah radio aktif kedalam kantong warna merah. Disamping itu rumah sakit diwajibkan memiliki tempat penyimpanan sementara limbahnya sesuai persyaratan yang ditetapkan dalam Kepdal 01 tahun 1995.
Dalam hal ini banyak fakta yang dapat kita temukan bahwa penanganan limbah medis lebih dominan menggunakan system inceneration, karena dari segi biaya lebih murah selain itu dapat mengurangi massa dan volume sehingga untuk penanganan berikutnya menjadi lebih mudah. Limbah dapat ditangani dalam waktu yang relatif lebih singkat daripada pengolahan secara biologi maupun sistem landfill dan area yang dibutuhkan relatif lebih kecil.
Pengelolaan limbah dengan menggunakan incinerator harus memenuhi beberapa persyaratan seperti yang tercantum dalam Keputusan Bapedal No 03 tahun 1995. Peraturan tersebut mengatur tentang kualitas incinerator dan emisi yang dikeluarkannya. Incinerator yang diperbolehkan untuk digunakan sebagai penghancur limbah B3 harus memiliki efisiensi pembakaran dan  efisiensi penghancuran / penghilangan (Destruction Reduction Efisience) yang tinggi.

2.4.            Prinsip Kerja Incinerator
Proses insenerasi akan berlangsung melalui 3 tahapan, yaitu:
1.         Tahapan pertama adalah  limbah atau sampah dalam sampah menjadi uap air, hasilnya limbah menjadi kering dan siap terbakar.
2.         Selanjutnya terjadi proses pirolisis, yaitu pembakaran tidak sempurna, dimana temperature belum terlalu tinggi.
3.         Fase berikutnya adalah pembakaran sempurna. Ruang bakar pertama digunakan sebagai pembakar limbah, suhu dikendalikan antara 400 C ~ 600 C. Ruang bakar kedua digunakan sebagai pembakar asap dan bau dengan suhu antara antara 600 C ~ 1200 C. Suplay oksigen dari udara luar ditambahkan agar terjadi oksidasi sehingga materi-materi limbah akan teroksidasi dan menjadi mudah terbakar, dengan terjadi proses pembakaran yg sempurna, asap yg keluar dari cerobong menjadi transparan.
Proses Incinerator :
Incinerator dilengkapi mesin pembakar dengan suhu tinggi yang dalam waktu relative singkat mampu membakar habis semua sampah tersebut hingga menjadi abu. Pembakaran sampah ini digunakan dengan sistem pembakaran bertingkat (double chamber), sehingga emisi yang melalui cerobong tidak berasap dan tidak berbau, dan menggunakan sitem cyclon yang pada akhirnya hasil pembakaran tidak memberikan pengaruh polusi pada lingkungan.
Keseluruhan kinerja incinerator yang saat ini diterapkan di beberapa negara maju dapat dibagi pada beberapa tahapan proses yaitu :

1. Proses penyimpanan sampah dan pengumpanan sampah
2. Proses pembakaran;
3. Proses penanganan sisa pembakaran;
4. Proses pembersihan asap;
Skema Pengolahan Limbah Farmasi Rumah Sakit Dengan Insenerasi.
GAMBAR
Dalam ruang bakar utama proses karbonisasi dilakukan dengan “ defisiensi udara “ dimana udara yang dimasukkan didistribusikan dengan merata kedasar ruang bakar untuk membakar karbon sisa. Gas buang yang panas dari pembakaran, keluar dari sampah dan naik memanasinya sehingga mengasilkan pengeringan dan kemudian membentuk gas-gas karbonisasi. Sisa padat dari pembentukan gas ini yang sebagian besar terdiri atas karbon, dibakar selama pembakaran normal dalam waktu pembakaran. Pada ruang bakar ini secara terkontrol dengan suhu 800 – 1.0000C dengan sistem close loop sehingga pembakaran optimal. Distribusi udara terdiri dari sebuah blower radial digerakan langsung dengan impeller, dengan casing almunium  dan motor listrik, lubang masuk udara dari pipa udara utama didistribusikan ke koil.
Ruang Bakar Tingkat Kedua :
Ruang bakar tingkat kedua dipasang diatas ruang bakar utama dan terdiri dari ruang penyalaan dan pembakaran, berfungsi membakar gas-gas karbonisasi yang dihasilkan dari dalam ruang bakar utama. Gas karbonisasi yang mudah terbakar dari ruang bakar utama dinyalakan oleh Burner Ruang Bakar Dua, kemudian dimasukan udara pembakar, maka gas-gas karbonisasi akan terbakar habis. Ruang Bakar Dua bekerja seperti sebuah after burner, yaitu mencari, gas-gas yang belum terbakar kemudian membawanya kedalam temperatur lebih tinggi sehingga terbakar sampai habis, dimana suhunya mencapai 1.100 0C dengan sistem close loop sehingga optimal. Pemasukan sampah ke ruang pembakaran dilakukan secara manual atau menggunakan lift conveyor.
Panel Kontrol Digital :
Diperlukan suatu panel kontrol digital dalam operasionalnya untuk setting suhu minimum dan maksimum didalam ruang pembakaran dan dapat dikontrol secara “ automatic “ dengan sistem close loop. Pada panel digital dilengkapi dengan petunjuk suhu, pengatur waktu (digunakan sesuai kebutuhan), dan dilengkapi dengan tombol pengendali “burner dan “blower” dengan terdapatnya lampu isyarat yang memadai dan memudahkan operasi.
Cerobong Cyclon :
Cerobong cyclon dipasang setelah ruang bakar dua, yang bagian dalamnya dilengkapi water spray berguna untuk menahan debu halus yang ikut terbang bersama gas buang, dengan cara gas buang yang keluar dari Ruang Bakar Dua dimasukan melalui sisi dinding atas sehingga terjadi aliran siklon di dalam cerobong. Gas buang yang berputar didalam cerobong siklon akan menghasilkan gaya sentripetal, sehingga abu yang berat jenisnya lebih berat dari gas buang akan terlempar kedinding cerobong siklon. Dengan cara menyemburkan butiran air yang halus kedinding, maka butiran-butiran abu halus tersebut akan turun kebawah bersama air yang disemburkan dan ditampung dalam bak penampung. Bak penampung dapat dirancang tiga sekat, dimana pada sekat pertama berfungsi mengendapkan abu halus, pada bak selanjutnya air abu akan disaring, dan air ditampung dan didinginkan pada sekat ketiga, siap untuk dipompakan ke cerobong siklon kembali.
Dengan pembakaran sampah secara sempurna temperatur operasi relatif lebih tinggi, relatif lebih kecil hidrokarbon yang lolos ke luar cerobong, dan asap berwana bening, sehingga emisi dari gas buang tersebut ramah terhadap lingkungan.
BAB III
PENUTUP
3.1.            Kesimpulan
Rumah sakit merupakan tempat upaya pelayanan kesehatan. Rumah sakit terdiri dari berbagai pelayan mulai dari kamar rawat, laboratorium, ruang farmasi, ruang operasi, dll. Pelayanan tersebut digunakan untuk meningkatkan kesehatan pasien yang sakit.
Disisi lain tak jarang kegiatan-kegiatan dirumah sakit memberi efek positif bagi lingkungan sekitar. Hal ini dikarenakan pengolahan limbah yang dihasilkan rumah sakit kurang diperhatikan pengolahannya.
Salah satu limbah yang dihasilkan oleh rumah sakit adalah limbah farmasi dimana limbah ini merupakan limbah medis yang berbahaya. Adapun contoh limbah farmasi adalah obat – obatan, vaksin, serum, yang tidak digunakan lagi, botol obat yang beresidu, dll. Limbah farmasi dapat berupa senyawa kimia toksik maupun non toksik, baik dalam bentuk padat, cair, maupun uap.
Berbagai cara dilakukan untuk mengolah limbah yang dihasilkan oleh rumah sakit. Salah satu cara yang digunakan adalah melauli proses incinerator. Secara garis berar proses insenerasi dilakukan melalui 4 tahap yaitu 1 proses penyimpanan sampah dan pengumpanan sampah, Proses pembakaran, Proses penanganan sisa pembakaran, dan proses pembersihan asap.



DAFTAR PUSTAKA
Al- Rasyid, Muh Ilham. 2011. “http ://pengolahan limbah/Penanganan dan Pengolahan Limbah Rumah Sakit.htm : Penanganan dan pengolahan Limbah Rumah Sakit”
Pruss A, dkk. Pengolahan Limbah Layanan Kesehatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta : 2002
Sakinah, Fitria. 2001. “http : //Pengolahan Limbah Rumah Sakit « Blog Archive « dwioktavia.htm : Pengolahan Limbah Rumah Sakit”
Purbani, Syafitri. https://syafitrianispurbani.wordpress.com/category/pengolahan-limbah/ (Diambil Pada Tanggal 21 November 2015, pukul 15.30 WIB)